Spot Poto salah satu objek wisata kota Tanjung enim, yang saat ini tengah di gencarkan yakni Tanjung Enim Menuju Kota Wisata

*Ada Sekolah Tinggi Agama Setara Nasional*

SAAT orang mendengar Nama Tanjung Enim, besar kemungkinan imajinasi kebanyakan orang tertuju pada batu bara, tidak bisa dipungkiri memang, kota kecil yang masuk dalam wilayah Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan ini memang kaya akan sumber daya alam (SDA) terutama batu bara.

Terlebih, SDA batu baranya telah dieksploitasi oleh sebuah perusahaan yang telah dikenal publik luas berpuluh-puluh tahun lamanya sebelumnya di Indonesia yakni PTBA tbk atau dikenal dengan nama Tambang Arang Bukit Asam (TABA) pada zaman kolonial.

Maka tidak heran, meski hanya kota kecil, Kota Tanjung Enim terbilang lebih populer dikenal ketimbang ibu kota Kabupatennya sendiri yakni Kota Muara Enim.

Kepopuleran Kota Tanjung Enim yang juga merupakan wilayah Kecamatan Lawang Kidul, selain oleh SDA nya, ternyata secara tidak langsung juga melalui kesuksesan para sejumlah tokoh dan pejabat yang berkarir di Ibukota Jakarta. Meski tergolong kota Kecil, namun kota tersebut telah berhasil “melahirkan orang-orang besar”/pejabat-pejabat besar yang berkecimpung di Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta, mulai dari pimpinan penegak hukum salah satunya, Basrief Arif yang pernah memimpin Lembaga Kejaksaan Repulik Indonesia, yakni menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Agung Republik Indonesia era Prisiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

BACA JUGA  Lembage Adat Semende Meraje Anak Belai

Selain itu, ada Prof Dr.H Edy Suandi Hamid M.Ec yang pernah memimpin salah satu perguruan tinggi negeri bergengsi di Indoensia, dengan menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Indonesia selama 2 periode 2006-2014, dan saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta periode 2017-2023, sekaligus sebagai Guru Besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Dibidang Poltik, ada sosok putra Tanjung Enim yang berkecimpung di senayan dan baru-baru ini didaulat oleh Presiden Jokowi, sebagai menteri Perikanan dan Kelautan menggantikan Susi Puji Astuti, Edi Prabowo.

Edi Prabowo sendiri dikabaran merupakan sosok yang sangat dekat dengan Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto.

BACA JUGA  Meja Buatan Mantan Anak Punk Ini Diminati Pejabat

Dibidang dunia pendidikan, di Kota yang terdapat jutaan ton batu bara tersebut, juga memiliki sekolah tinggi agama kristen yang bisa dikatakan tingkat Nasional, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Theologi (STIT) Eben Haizer. Lantas dimana perannya dalam mempopulerkan Kota Tanjung Enim ?

Sekolah Tinggi yang letaknya berada dalam satu kompleks dengan Gereja Protestan Injili Nusantara (GPIN) Jemaat Bukit Asam, Talang Jawa,Tanjung Enim, khusus mencetak para calon-calon pendeta ini, memiliki mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

“Ya tentunya secara tidak langsung mereka (Mahasiswa) telah memperkenalkan kota Tanjung Enim ketika kembali lagi ke kampung halamannya atau daerahnya masing-masing, untuk berbaur di tengah masyarakat. Sering mereka di tanya ketika telah pulang dan membaur ke tengah masyarakat asal mereka, menanyakan alumni mana. Tentu mareka-mereka yang berasal dari Sabang sampai Merauke ini menjawabnya alumni STIT Eben Haizer Tanjung Enim, Sumsel,”kata Febriaman L Harefa M.Th salah satu Dosen STIT Eben Haizer Tanjung Enim, Kamis (8/1/2015).

BACA JUGA  Pembangunan PLTU Sumsel 8 Capai 72 Persen, Gubernur Herman Deru Optimis Sumsel Menjadi Lumbung Energi Nasional

Sebab kata Febriaman, para mahasiswa/i nya tersebut berasal dari berbagai daerah di Nusantara, jadi tidak heran bila banyak yang menyebut STIT Eben Haizer Tanjung Enim adalah Indonesia mini, mengingat disini tempat berkumpul berbagai suku bangsa yang beraneka ragam kebudayaannya, yang sengaja datang untuk menuntut ilmu di STIT Eben Haizer Tanjung Enim.

“Masyarakat Tanjung Enim adalah masyarakat heterogen dan sangat menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Terbukti, sejauh ini tidak pernah terdengar atau pun terjadi keributan yang berbau rasis, seperti keributan antar suku maupun agama.

” ini sangat baik, berarti masyarakat asli pribumi Tanjung Enim sangat welcome terhadap para pendatang dari berbagai daerah. Masyarakat Tanjung Enim sangat memegang teguh motto atau semboyan negara Indonesia yaitu, Bhinneka Tunggal Ika,”pujinya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here