PALEMBANG | Ini bukan kalimat asmara, antara pria ke wanita, yang sedang memutuskan, apakah akan melanjutkan jenjang pernikahan atau tidak. Bukan pula syair lagu “Berjanjilah” Itje Trisnawati di era 90-an karya Mochtar B.

Tapi ini terucap dari lisan Efran, Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), yang sedang mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat Ketua IWO Sumsel.

“Pilih Saya karena Allah. Bukan karena gagasan saya. Bukan karena visi dan misi saya. Kalau visi dan misi bisa dibuat kapan dan oleh siapa saja. Tapi pilih saya karena Allah,” ujarnya dalam jumpa pers di Caramel Coffe, Kamis (18 /5/2023) malam.

Pernyataan Efran ini, menurutnya bukan tanpa risiko. Sebab, ujaran ini menurut mantan Direktur PALI Radio ini sangat berdampak pada moralitas dan integirtas dirinya ketika kelak akan memegang tampuk kepemimpinan IWO Sumsel periode 2022-2027.

“Benar. Kalimat saya ini ada risiko dan konsekeuensinya. Artinya, kalau saya berani mengatakan ; pilih saya karena Allah, berarti saya juga harus membangun akhlaq dan adab diri saya terlebih dulu dalam menjalani profesi saya, yang harus sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya, baru kemudian, saya harus menjalankan program IWO Sumsel ke depan yang sesuai dengan apa yang saya ucapkan itu,” ujarnya saat dijumpai usai jumpa pers, belum lama ini.

Ketika ditanya langkah penting yang strategis untuk mewujudkan IWO Sumsel, berakhlaq dan beradab sesuai tagline yang tertera dalam flyer, Efran menegaskan, selama ini pendidikan moral yang berbasis teknis sudah dilakukan.

BACA JUGA  Wawako Fitri Kukuhkan Kepengurusan Paguyuban Pembudidaya dan Pencinta Ikan Hias Palembang

Melalui penjelasan Kode Etik Wartawan (KEW), sudah lebih dari cukup untuk membuat moralitas wartawan menjadi baik. “Tapi ini bagi wartawan yang memegang kode etik dengan konsekuen dan bertanggungjawab. Kalau bagi yang tidak, ya silakan saja dilihat sendiri di lapangan,” ujarnya.

Namun, pendidikan moral wartawan yang berbasis ibadah (vertikal), menurut owner media online tintamerah.co.id nyaris terabaikan.

“Secara pribadi, mungkin sudah dilakukan oleh setiap wartawan untuk melakukan ibadah ritual. Tapi itu kan personal. Sementara lembaga sekelas IWO juga bertanggungjawab terhadap pendidikan moralitas dan integritas wartawan yang berbasis ibadah atau berbasis religius. Saya pikir ini yang uga penting dimaksimalkan ke dapan,” tegasnya.

Oleh sebab itu menurut Efran, pendidikan ideologi pers dalam internal institusi pers secara kelembagaan dan personal, bukan hanya berkutat pada pendidikan moral wartawan dalam hal teknis menulis berita saja, tetapi lebih penting dari itu, pendidikan moralitas berbasis religius juga harus menjadi perhatian serius.

“Oleh sebab itu, IWO Sumsel di masa mendatang harus ada pendidikan moral secara intensif terhadap wartawan yang berbasis religius, sesuai dengan agamanya masing-masing. Tujuannya, agar hati wartawan juga bermoral, dan kelak akan mampu mewujudkan wartawan profesional yang tetap menjaga integritasnya, dunia dan akhirat, dan profesi wartawan tetap bermartabat di mata publik” tegasnya.

Efran menambahkan, rencara program ini sekaligus untuk memangkas sejumlah pendapat yang menilai, bila sebuah media tidak terverifikasi Dewan Pers dan wartawannya tidak bersertifikat, dianggap sejumlah pihak, media tersebut abal-abal, wartwannya tidak profesional dan integritasnya dipertanyakan.

BACA JUGA  Dihadiri Wabup Soemarjono, Pertamina Pendopo Field Panen Padi Organik Sri Perdana di PALI

“Menurut saya, penilaian ini kurang tepat. Mungkin ada benarnya, tapi tidak selalu begitu. Tidak bisa dipukul rata,” tegasnya.

Sebab, wartawan yang lulus sertifikasi dan medianya terverifikasi Dewan Pers, hal itu sebatas adminsitratif-legal formal, bukan ukuran moralitas, terlebih akhlak dan adab wartawan dan institusi media.

“Pertanyaan saya, apakah wartawan bersertifikasi sudah dijamin akan berakhlak dan beradab dalam menjalankan profesinya? Sama halnya begini. Ini permisalan saja, apakah orang yang mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi), sudah dijamin tidak akan melanggar lalu lintas? Tidak juga kan? Itu yang saya sebut sebatas adminsitraif legal dan formal, bukan ukuran moralitas, semua tergantung manusianya,” tambahnya.

Efran mengakui, untuk mewujudkan wartawan yang berakhlaq dan beradab bukan hal mudah. Tetapi untuk menjembatani agar kebaikan itu sampai pada titik maksimal tetap harus dilakukan. “Satu diantaranya, melalui IWO Sumsel di masa mendatang, yang harus membuat inhose training bagi wartawan yang berbasis religius,” tegasnya.

Menaggapi pernyataan itu, jurnalis senior Sumsel, Imron Supriyadi menilai, gagasan itu memang harus ideal. “Kalau mengutip para motivator, jangan pernah takut bermimpi terhadap gagasan,” ujarnya.

Menurut Pemimpin Redaksi Media Online kabarsumatera.com ini, namanya gagasan, ide atau apapun bentuknya yang tertuang dalam visi dan misi yang disampaikan calon ketua, kepala daerah atau presiden sekalipun, memang standarnya harus ideal dan berbasis norma-norma.

“Tidak mungkin misalnya membuat visi dan misi, kita wujudkan wartawan yang boleh menerima amplop, selama tidak meminta. Kan tidak mungkin. Pasti harus ideal dan berdasar pada norma-norma,” ujarnya.

BACA JUGA  Jamin Keamanan Jelang Paska, Kodam II Sriwijaya Bersama Polda dan Pemprov Sumsel Perketat Penjagaan Pusat Keramaian

Lebih lanjut, Dosen Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang ini mengatakan, point-point yang disampaikan Efran yang membahasakan programnya dengan pendekatan spiritual, memang kesannya normatif ideal.

“Tapi ya begitulah visi dan misi, yang menurut saya memang harus punya norma ideal yang akan dicapai, ketika yang bersangkutan memimpin organisasi ini. Persoalannya kemudian, tinggal bagaimana sang leader ini bisa mewujudkan ide-ide-nya dalam rencana strategis, yang sistematis dan terukur,” ujar Imron yang mengawali karir wartawan-nya tahun 1996 di Harian Pagi Sumatera Ekspres hingga sekarang.

Lebih lanjut, menurut peraih Anugerah Jurnalistik Seni tahun 2010 versi Dewan Kesenian Sumsel (DKSS), sebuah ide atau gagasan yang disampaikan kepada publik, hanya akan terwujud bila dilakukan oleh tim yang solid dan terstruktur.

“Siapa melakukan apa harus jelas. Progres hari per hari, harus terukur. Ya, ibaratnya seperti kawan-kawan wartawan mengelola media harian, yang harus menguntit isu terkini hingga tuntas dengan hitungan detik. Saya kira itu,” tambahnya.

Bila kemduian tim yang dibangun dalam organisasi itu tidak solid dan terstruktur, dipastikan ide dan gagasan apapun, akan hancur oleh eporia kekuasaan, yang berakhir dengan hayalan dalam imaginasi.

“Jadi itu yang harus dilakukan leader IWO ke depan. Kalau tidak, ya semua hanya akan menjadi wacana dan legenda. Ini yang menurut saya, tantangan ke depan bagi IWO, siapapun yang akan memimpin nanti,” tegasnya.

TEKS : Tim IWO PALI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here